Entahlah awal-awal masuk SMA kelas 1 itu tanggal berapa, aku nggak ingat. Awal dimana namaku pertama kali tertulis di daftar absen Kelas X-8. Ya kelas itu, dimana kisahku yang tak kusangka-sangka dimulai. Walaupun MOS sudah berakhir, tapi tetap saja aku belum tau nama teman-temanku secara menyeluruh. Aku terlalu cuek, malas untuk berkenalan. Paling teman sebangku yang ternyata gamer juga, entah kebetulan atau apa, jadi kita cepat akrab.
Minggu pertama aktif pelajaran, aku berangkat kepagian, jam 6.20 ternyata sudah ada 4 orang teman di dalam kelas. Kulihat nama-nama di daftar itu, oh sial! Tak ada yang aku kenal. Terasa asing bagiku.
Dengan gontai aku putuskan untuk nongkrong di depan kelas saja. Sambil menunggu bel tanda masuk.
Kulihat teman kelas yang lain beberapa sudah akrab. Saling tegur sapa. Mungkin dulunya satu SMP.
......
"Teeet!... teeet!"
Lamunanku buyar, ketika bel tanda masuk berbunyi.
Saat aku nulis diary ini, bisa merasakan betapa malasnya aku untuk menerima pelajaran setelah sekian lama libur.
Tiba-tiba kulihat seorang cewe berlari kecil, tergesa-gesa. Sepertinya gara-gara bunyi bel tadi. Cewe mungil dengan rambut lurus sepunggungnya.
Heh! setengah kaget, ternyata dia teman sekelasku. Beda sekali waktu MOS, saat rambutnya dikepang pake pita, suruhan senior keparat.
Kita masuk ke kelas rada berdesak-desakan, sambil aku mencoba mengingat namanya. Bodoh, kenapa bisa lupa... "Siapa ya?" pertanyaan itu berulang-ulang muncul dalam pikiranku. "Ah, nanti juga tau saat seorang guru mengabsen" kataku dalam hati.
Wajah periangnya sepertinya telah menorehkan warna baru dihatiku, yang kelak hari-hariku terlihat berbeda.
Dengan gontai aku putuskan untuk nongkrong di depan kelas saja. Sambil menunggu bel tanda masuk.
Kulihat teman kelas yang lain beberapa sudah akrab. Saling tegur sapa. Mungkin dulunya satu SMP.
......
"Teeet!... teeet!"
Lamunanku buyar, ketika bel tanda masuk berbunyi.
Saat aku nulis diary ini, bisa merasakan betapa malasnya aku untuk menerima pelajaran setelah sekian lama libur.
Tiba-tiba kulihat seorang cewe berlari kecil, tergesa-gesa. Sepertinya gara-gara bunyi bel tadi. Cewe mungil dengan rambut lurus sepunggungnya.
Heh! setengah kaget, ternyata dia teman sekelasku. Beda sekali waktu MOS, saat rambutnya dikepang pake pita, suruhan senior keparat.
Kita masuk ke kelas rada berdesak-desakan, sambil aku mencoba mengingat namanya. Bodoh, kenapa bisa lupa... "Siapa ya?" pertanyaan itu berulang-ulang muncul dalam pikiranku. "Ah, nanti juga tau saat seorang guru mengabsen" kataku dalam hati.
Wajah periangnya sepertinya telah menorehkan warna baru dihatiku, yang kelak hari-hariku terlihat berbeda.


Posting Komentar