Tampilkan postingan dengan label Red Diary. Tampilkan semua postingan

Tentang Kunang - Kunang Temaram dan Kupu - Kupu Musim Panas Dini


.




Beberapa saat yang lalu kulihat sekumpulan kunang-kunang di taman pemakaman.

Pendar cahayanya mengisyaratkan kemuraman, kesepian, dan kedukaan kepada yang telah berpulang.


Terkadang beberapa teman menanyaiku, "kunang-kunang di taman pemakaman, apa istimewanya?"

Si kuku orang mati yang hinggap dan berkelana diantara kegelapan nisan pemakaman China.

Orang pun enggan hanya sekadar berlari untuk mendekatinya.


Hanya setitik cahaya bioluminesensi yang mereka miliki menjadi satu-satunya daya tarik. 

Tapi apakah kamu tau? daya tarik itu sebenarnya cara mereka mempertaruhkan hidupnya dari pemasangsa. 

Ironis bukan, dalam imajinasi kita, setitik cahaya berpendar itu seperti "bola api magis melayang" hasil rapalan mantra para penyihir di game-game console.

Disisi lain, setitik cahaya tersebut adalah pengharapan untuk kesempatan melanjutkan hidupnya lebih lama.


Bandingkan saja dengan kupu-kupu yang begitu anggun hinggap di mahkota bunga.

Seolah-olah mereka berada di kasta yang berbeda ya. 

Mungkin bagi sebagian orang beranggapan ini tidak adil.


Kau ingat? kupu-kupu dengan sayap yang mempesona itu tidaklah didapat dari mereka sejak kecil

Dahulunya hanyalah seekor serangga mungil yang orang pun akan merasa jijik ketika melihatnya. 

Selama berminggu-minggu serangga mungil itu berpuasa, mengalihkan indahnya dunia.

Hujan, badai, panas terik, dan ancaman pemangsa, ia lalui dengan berdiam diri penuh kepasrahan dalam bentuk keduanya. 

Tanpa memperdulikan apakah esok hari masih bisa bertemu dengan birunya langit atau tidak.

Ia hanya mengingat akan janji dari sebaik-baiknya pencipta (Alloh SWT) sebagai penyemangat.

Janji yang tak akan pernah diingkari, janji untuk kelak memiliki dua pasang sayap.


"Tapi kunang-kunang dan kupu-kupu adalah binatang yang sama-sama mengalami metamorfosis sempurna kan" sisi diriku yang lain menimpali.

"Bukankah itu salah satu bentuk keadilan Alloh?" 

"Hey, apa sebenarnya manfaat diciptakannya makhluk-makhluk ini? Mengapa Allah menciptakannya?"


Namun Al-Quran menunjukkan kuasa Allah atas semua ciptaan-Nya.

“Ya Tuhan kami, kami bersaksi bahwa tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia (Al-Imran : 191)”.

Beberapa binatang serangga disebutkan di sana, semut, lebah, dan laba-laba.

Sebagai makna tersyirat bahwa Allah SWT tidak menciptakan apa pun kecuali di sana terdapat suatu hikmah, baik yang kita ketahui maupun tidak.

Kita sebagai manusia yang sama-sama menjadi makhluk ciptaanya Nya tidak patut untuk menyombongkan diri, karena sama-sama memiliki keterbatasan, sama-sama memiliki awal, dan sama-sama akan berpulang pada waktunya masing-masing.

Menjatuhkan hati (lagi)


.

Aku tahu perihnya ditinggalkan karena digantikan.
 
Aku tahu sakitnya tak dianggap padahal selalu ada.
 
Aku mengerti kecewanya janji yang tidak ditepati. 
 
Aku tahu sedihnya dicintai separuh padahal aku mencintai dengan penuh. 
 
Aku tahu pusingnya cemburu tapi tak berhak sedikitpun. 
 
Aku tahu cemasnya mengkhawatirkan tapi tak berani mengatakan.
 
Aku tahu dan aku mengerti semua itu.
Maka maafkan aku jika hari ini aku begitu pemilih untuk menjatuhkan hati lagi. 
 
Aku bukannya tak mau, 
Hanya saja aku masih sedikit takut dikecewakan lagi oleh orang-orang yang kupercaya.




Credits: mbeeer via tumblr

Kota Kelahiran


.

Kota kelahiran adalah perekam kenangan terbaik.

Bahwasanya disetiap sudut-sudut kota,
ada rekaman perjalanan hidupmu dari lahir.


(Flashback ke masa SMA) Harusnya namamu yang aku tulis


.




Hari rabu di semester 1 kelas 1 SMA,
seperti hari-hari biasanya,
Aku masuk ke kelas dimasa injury time.
Yup, sekitar delapan menitan sebelum bel masuk.
Yeah kebiasaan burukku yang patut dilestarikan.

Seru lagi, berangkat sekolah mepet-mepet gitu.
Jadi bisa lari-lari dikoridor kelas.
Nge-hujat lampu merah yang engga ijo-ijo.
Gregetan kalau angkotnya naik-turunin penumpang mlulu.
Ngedumel penuh kepasrahan kalau ternyata
sisa kursi kosong, adalah depan meja guru.

Namun untuk yang terakhir, ada solusi cerdasnya.
Yaitu bersimbiosis mutualisme.
Yup benar, bersimbiosis dengan seseorang
yang rajin berangkat pagi.
Dipersempit lagi, dia juga harus
punya bangku favorit yang sama sepertiku.
Pokoknya deret kedua dari belakang.

Nah anak yang tidak beruntung jadi teman
sebangkuku itu bernama Sunu.
Eh, apa dianya yang beruntung sebangku sama aku?
Soalnya nyontek aku mlulu kalau ulangan.

Oke jam pertama Biologi, skip aja, nothing interest.
Jam selanjutnya Geografi, Pak Caraka yang ngajar.
Nothing spesial juga, cuma minggu kemarin ada tugas.
Tugasnya individu bikin kuesioner
dengan respoden teman sekelas.
Intinya buat bahan tabulasi diagram sama curva.
Pengumpulannya masih minggu depan.

Oya, tema kuesionerku tentang hantu.
Isinya berkisar tentang kepercayaan mistis gitu deh.
Tema teman yang lain juga lucu-lucu.
Ada yang nanyain berapa kali kalian pacaran,
negara yang pengin dikunjungi kalau pas bulan madu,
siapa cewek paling cantik di kelas X-8? (nah lo), dll.

Selesainya jam Geografi, it's time to Break.
Anak-anak kebanyakan pada keluar.
Aku sama Sunu cuma duduk-duduk aja di kelas.
konsen ngebaca majalah Bola.
Yang cewek beberapa juga masih dikelas.
Malah lagi cekakak-cekikik ngga jelas gitu.
Heboh ngomongin sesuatu yang ngga aku ngerti.

Tiba-tiba, satu dari mereka, si Annisa,
manggil aku sama Sunu.
"heyyy, kalian berdua isiin kuesionerku donk".
"Eh, Ghan denger ngga, barusan suara binatang apaan?"
kata Sunu, gayanya nengokin kepala ke kanan-kiri.
"Godzilla lagi nyari anaknya"
jawabku sambil masih ngeliatin majalah.
Eh tau-tau tu anak udah disampingku.
"aaaaaah!... sakiiit Nis"
reflek aku teriak. Sumpah cubitan cewek
lebih sakit dibanding disenggol gorila.
Ya iyalah cuma disenggol.
"sukurin, weeee..."
Anis melet-melet.
"yaudah sini-sini, aku isiin.
Dari pada ntar disembur pake apinya"
"Ghaniii... jahat!! huuuuh..."
"hehe... engga, engga..."
Demi keselamatan akhirnya aku baca
kuesionernya si Annisa.

Disitu nanyain siapa cewek
paling cantik di kelas X-8.
"Sapa Sun cewe paling cantik di kelas kita?"
tanyakuku ke sunu yang juga ikut ngebaca.
"jawabnya yang jujur yah..."
Annisa nyerocos.
"tambah satu kolom lagi Nis, ngga ada yang bening!"
Aku cuma mesem-mesem ngedenger tadi Sunu ngomong.
Emang sarap tu bocah.
"Yeee.. sok bangeet!!"
sorak Annisa sama 2 temen cewek yang lain.
Dengan tiba-tiba mereka juga ikut ngeliatin.

"Nih... duluan ah Ghan"
Sunu ngasihin kertasnya ke aku.
Aku cuma bengong, bingung harus nulis nama siapa.
Waktu aku liat-liat jawaban yang lain,
sama juga, beberapa milih Ike.
Karena mungkin kelamaen ngga nulis-nulis,
si Annisa ngomong,
"Udah si Ike aja, cantik lho tu anak".
"he-eh Ghan, kita rame-rame milih dia... haha"
temen cewekku yang lain juga ikut memberi masukkan.

Yaudah, hati terdalamku juga milih dia.
Kenapa harus gengsi dan bilang bukan?
Oke, akan ku tulis dengan sangat rapi, Ike Andriyati.
Tapi entah tanganku kaku.

Susahkah menulis sebuah nama dengan tambahan rasa?
Sebuah nama yang aku tulis dengan jantung berdebar.
Terlebih nama lengkapnya.
Membaca dalam hati saja membuat panas dingin gemetaran.
Sesakral itukah namamu?

Finally, I wrote....

"Yuriska....."

Sontak Annisa, dan 2 temen cewekku yang lain
teriak, "cieeeeeee....... Riskaaa!!!".
"ihiiir... ihir Ghany" kini giliran Sunu.

Dan tanpa sepengetahuanku, sumpah aku engga tau.
Ternyata si Yuriska dari tadi duduk di meja depan,
selisih satu deret.
Dan Si Yuriska nengok ke aku, ngeliatin bentar.
Pada tahap ini, aku ngga punya keberanian natap matanya.

Betapa malunya aku.
Aaaaargh... pengin aku teriak. Trus ngomong ke sunu,
"Sun! bunuh aku!... bunuh aku Sun aaaaa!!!"
Tapi aku tahan. Karena dirasa terlalu lebay.

"Ghan... ayo samperin. Cieee..."
Kupreet Annisa.
"itu... aa.. anu.. arrr"
Sial aku ngeracau engga jelas.
Aku ngerasa tubuhku diluar kendali kewajaran.
Sampai butuh berpuluh-puluh menit untuk bisa tenang kembali.

(Flashback ke masa SMA) Hal yang aku kangenin


.




Teruntuk yang membaca Blog-ku,
sebelumnya maaf banget untuk tulisan dengan tag
"Flashback ke masa SMA",
saya posting tidak urut sesuai kejadian.
Saya posting sesuai yang diingat saja.
Takutnya kalau ada yang beranggapan bahwa
postingan terbaru adalah lanjutan sebelumnya.

Jadi bersifat acak.

Mengenai kedetailan waktu kejadian seperti tanggal,
saya tidak bisa mencantumkan.
Disamping keterbatasan ingatan,
juga karena buku harian sewaktu SMA saya hilang.
Sempat saya cari-cari di gudang, tapi nihil.
Namun masih bersyukur juga, "Year Book" tidak ikut hilang.

(Walaupun di year book tersebut tidak ada fotomu Ike.
Belum sempat foto bareng lebih tepatnya)

Oya, saat membuka lembar demi lembar halaman Year Book,
Playlist JetAudio-ku lagi muter lagunya The Rain, Tolong Aku.
Lagu yang sering aku denger di radio-radio saat Kelas 1 SMA.
It's hits me. Ooh God, :(.
Begitu menyeruak, jadi kangen masa-masa itu.

Aku kangen saat-saat upacara bendera hari senin.
Aku kangen saat-saat acara pramuka sore,
dengan hasrat ingin nonjok muka kaka pembina ngeselin.
Aku kangen saat begitu deg-degannya maju kedepan kelas,
untuk membacakan puisi ketika pelajaran bahasa.
Aku kangen betapa leganya ketika keluar ruang
ujian semester, di hari terakhir.

Aku kangen bangku favorite-ku,
deret kedua dari belakang.
Aku kangen euforia acara class meeting,
dengan berbagai macam perlombaan antar kelasnya.
Aku kangen penjual majalah depan SMA-ku.
Aku kangen soto pak Sarkim di kantin belakang.

Aku kangen meriahnya Smanza Fair, even taunan itu.
Aku kangen capenya hiking bersama teman-teman pecinta alam.
Aku kangen buka puasa bersama disekolah saat Ramadhan.
Aku kangen betapa senangnya saat mengetahui hari itu
akan pulang gasik.
Aku kangen menunggu angkot O2 jurusan ke terminal,
sambil duduk-duduk di dekat penjual majalah.
Dan aku kangen...
saat seorang guru memanggil nama no absen 16.
Absen setelahku. Ike Andriyati.



Pada akhirnya,
bagian tersulit dari melupakan seseorang,
bukanlah merelakan orang itu pergi.
Yang sulit hanyalah melupakan kenangan bersamanya - Ghany.

Serpihan terakhirku: epilog, do you remember? butterfly early summer


.


“…selamat datang masa depanku...
makasih yah untuk kenangan dan masa lalu itu...”

Ini kesiasiaan? tidak juga.
Paling tidak dengan semangat itu, aku bisa menjadi "seseorang".
Semangat yang berkobar hanya dari sms yang kamu kirimkan.
Dan jika sekarang aku mulai mengenang kembali waktu itu,
ada senyum disana, senyum yang tak tergantikan.

Walaupun terkadang aku masih merindukan saat-saat itu,
kembali ke masa awal - awal kuliah, ada canda, tawa, atau kadang terselip perih.
Itu biasa.
Iya aku tau, aku hanya seorang pemimpi.
Seorang lelaki bodoh yang terus terikat masa lalu.
Karena pernah kehilangan.

Mungkin juga sombong,
karena tak pernah mengambil tiap kesempatan yang ada.
Tapi yakinlah bukan itu yang kumau.
Aku tak bisa walau sekedar menggenggam tangan mungilmu.
Sepertimu yang lebih memilih menarik jaketku
jika ingin memberitahuku sesuatu.
Mungkin ini prinsipku.

Aku sendiri kadang tak yakin tentang perasaan ini,
terkadang kamu terlihat seperti malaikat kecil,
kunang- kunang temaram (sama sepertiku),
atau hanya seorang teman kebanyakan.

Oya makasih ya buat warna -warna perlangimu.
Aku juga minta maaf kalau saja pernah ada
warna - warna kelam yang pernah kutorehkan di hidupmu,
dan membuat warna-warna lainnya menjadi kelabu.

Bersamaan dengan aku posting tulisan ini,
aku mulai mencoba menatap masa depanku sendiri.
Aku tak peduli akan sejelek apa imejku kelak dimatamu nanti.
Aku juga tak menginginkan rasa ini terbit lagi, kumohon...

Aku pergi yah.... kupu - kupu musim panas dini.

"...Sampai jumpa 10 tahun lagi, ditempat mimpimu berada.
Sebuah tempat yang lebih baik dari hari ini...".




Ghany - July, 26 2011. Malam setelah gladi bersih Wisuda Universitas.

May, 24 2011: Untuk Waktu


.

Aku tulis ini saat menjelang hari-hari akhir pengerjaan Tugas Akhirku
---------------------------------------------------------------------------


Namun, sepertinya waktu tak pernah berhenti berlari ya?
Atau sekedar menungguiku yang kelelahan dibelakang, barang 3 atau 5 menit.

"Heh Ghan, mana mau bodoh?! sang waktu menunggui mu, untuk mengulurkan tangannya?!"
Ujar suara itu sedikit ketus.

"Murahan sekali sang waktu itu. Sang waktu itu tirani, bertangan besi, dan tak pernah kenal kompromi. Harusnya kau tau itu!".

Lanjut suara itu bermonolog panjang.
Tanpa memberiku kesempatan untuk membela diri dan berlalu begitu saja.

May, 22 2011: A Promise


.


Buat 3D maleman seperti ini,
jadi teringat pas tugas kelompok "Perancangan kota" dulu.
Semaleman bikin 3D sama poster, dan gilanya jam 11 malem baru mulai.
Padahal deadline tugasnya esok pagi sebelum jam 12.

Yah saking ga ada idenya ini otak,
jam segituan baru ada mood buat ngerjain.
(Setelah browsing sana-sini tentunya :p)

Dan parahnya lagi, baru nge-download "v-ray"! what the fu....
Mengerikan.....
Oya, V-ray tu software buat nge-render bangunan 3D yang dibikin.
Biar material-materialnya keliatan lebih real.

Pas nulis cerita ini, jadi senyum-senyum sendiri,
"Sakit ya kamu Ghan!!!", haha biarin...

Bukan cuma itu, saat aku menimang-nimang SE K800i-ku tercinta.
Aku teringat 1 message di Inbox siang tadi, ku baca lagi pelan:

From: phon-phon
Received: at 1.25 pm

"Ghan, aku bikin paper-nya,
Sore ini aku usahain bisa di print.
3D sama poster kamu yah,
pokoknya harus udah di-plot jam 8 lho, hihi..."


Aku ulangi sekali lagi ngebacanya pas kata,
"Sore ini aku usahain bisa diprint"

Jleb! layaknya ditusuk beribu-ribu jarum ke arah jantung bilik kiri.
Mengucurkan darah segar, secara perlahan..

Bodohnya aku! disana dia juga berusaha sungguh-sungguh untuk menyelesaikan lebih awal.
Tapi disini, aku, kau liat? aku belum apa-apa.

Sebegitukah dia mempercayaiku membuat pekerjaan yang tak mungkin ini?
Dan yakin aku bisa menyelesaikan tepat pada waktunya?
Percaya? apa yang membuat dia percaya padaku?


Teman.


Seketika itu juga aku kerjain.
dalam hati berkata,
"iya aku usahain yah dan tak akan kusia-siakan juga kepercayaan mu itu. Janji"
Mati-matian kubuat, dibantu doping Mocacinno.
(Tak lupa skill sketch-up ku yang pas-pasan ini).

Ajaibnya jadi. Tepat pukul 6 am.

Oya, tapi maaf aku sedikit ingkar.
Aku baru bisa nge-plot poster ukuran 60 x 90 jam 9.
Sori yah, tak menepati janjimu...

Wew setelahnya, tubuhku bener-bener ambruk.
Harusnya lebih parah dari itu,
tapi entahlah, kaya dapet dorongan semangat gitu, haha.



---------------------------------------------------------------------------
NOTE: Ada perubahan pengumpulan tugas perkot,
yang tadinya jumat jadi hari senin.
Lha... jadi pas waktu itu nglembur semalaman buat apa!? aaargh....
Bukan untuk apa-apa sih, hanya untuk "sebuah janji".
Aammm... untukmu yang dicerita,
sori yah tanpa seijin-mu menjadikan salah satu tokoh.
Semangat untuk TA-ku, semangat untuk TA kalian juga.



Ghany, true story at Dec 9 2010

(Flashback ke masa SMA) Saat pulang sekolah, ketika hari hujan


.



Untuk Ike, Ah, malam-malam musim penghujan seperti ini,
mengingatkanku saat kita pulang sekolah dulu, ketika hari hujan.
Tak terlalu lebat memang, tapi cukup untuk membuat rambut sebahumu basah.
Saat kamu berlarian dari koridor menuju angkot.

Lelaki bodoh ini hanya sanggup melihatmu dari kejauhan.
Mengikuti langkah gerak kaki kecilmu menyeriakan genangan air.
Tak ada yang bisa kulakukan lebih dari itu.

Aku juga hafal angkot jurusan apa yang kamu tunggu.
F2, Sokaraja, atau O2 menuju terminal.
Sedetail inikah aku diam-diam mengenalmu? atau hanya kebetulan saja?

Mungkin karena kita sering papasan di pedestrian depan sekolah.
Sama-sama menunggu angkot tapi beda jurusan.

Atau beberapa kali kujumpai kamu lagi duduk di dalam angkot,
yang sedang berhenti tak jauh dari gerbang sekolah.
Kita cuma saling bertukar senyum, sebatas saling menatap.
Jika kedua bola mata kita bertemu,
pastinya aku akan lebih dulu memalingkan pandangan ke satu titik yang lain.
Aaah...pengecut sekali aku.

(Flashback ke masa SMA) Edelweiss itu bunga abadi, Ghany...


.

Mengenangmu, ike. Ghany, 17 Desember 2010.


"Edelweiss itu bunga abadi, Ghani..." ucapnya dengan senyum mungil.
Senyum yang sedari tadi kunanti untuk terbit.

"......."

Aku hanya mengerutkan dahi, tanda tak mengerti apa yang dimaksudkannya.
Oya, membayangkan saja bunga Edelweiss seperti apa aku pun tak tau.
"Payah juga aku ini, atau emang cowo tak pernah tau tentang bunga?" sindirku dalam hati.

Sepertinya makhluk didepanku ini telah membiusku untuk mendengarkan ceritanya lebih jauh.
"Kau tau?" ucapnya lagi, meneruskan.
Seketika itu juga lamunanku buyar.

"Ketika bunga ini dipetik, warna dan bentuknya tak akan berubah,
tapi kau harus menyimpannya di tempat yang kering dengan suhu kamar.
Itulah sebabnya bunga ini sebagai lambang keabadian. Cinta yang abadi!"

"Abadi?... " ucapku lirih dan samar-samar.
Kuharap dia tak mendengarkannya.

"Iya Ghan, kenapa?"
"Ee... ee, itu, aa... Kau pernah melihatnya langsung?"
Duh, kenapa kalimat itu yang terlontar. Mati kutu.
Ternyata dia sedikit mendengar gumamanku.

"Hehe, belum sih, tapi kuharap suatu saat nanti ada yang membawakannya untukku"
"Yee... kirain.Eh, tapi pasti yang ngasih tulus banget ya, rasa sayangnya"

"Tulus dan rela berkorban, Ghan. Soalnya Edelweiss juga melambangkan pengorbanan.
Kan bunga ini hanya tumbuh di puncak dan lereng-lereng gunung.
Jadi untuk mendapatkannya butuh perjuangan yang sangat berat"

Aku terpaku, terpana. Ternyata dia bisa berpikir sejauh ini.
Entahlah, sekarang yang ada dipikiranku bunga Edelweiss atau malah
makhluk didepanku ini? makhluk yang sungguh mempesona.

"Kayaknya indah banget ya ngeliat hamparan bunga Edelweiss di puncak gunung
bersama orang yang disayangi?" lanjutnya lagi.
"Iyah, betapa beruntungnya sepasang orang itu"

"Ghan... ghan... tapi setelah dipikir-pikir. Biarlah bunga Edelweiss terhampar disana.
Tak perlu dipetik. Buat apa memetik sesuatu bila lebih indah pada tempatnya?"

"Yup, dan juga... biarlah Edelweiss menjadi alasan kenapa orang rela bersusah payah mendaki gunung.
Tak memperdulikan disampingnya ada jurang.Sekedar untuk melihat hamparan bunga abadi ini,
Edelweiss, seperti yang dikata banyak orang" sambungku.

Percakapan aku denganya terhenti disini, saat extrakurikuler yang dia ikuti mau dimulai.



*Sampai saat ini pun aku belum bisa memetik Edelweiss.
Andaikan kamu memberiku izin untuk memetiknya,
aku bingung bagaimana cara memberinya untukmu.
Aku tau, bunga itu spesial untukmu. Tapi... dimana kita janjian ketemu?
Iya, tak perlu susah-susah memikirkan tempat kita janjian :).
Aku saja yang akan mengantarkan ke tempat nisanmu*

(Flashback ke masa SMA) Baik - baik disana, Ike


.

Mataku terlalu mendung mengingat semua kenangan bersama mu, Ike.
Kau gadis yang periang, baik, dan lincah.
Kadang aku juga tak percaya dengan semua ini, begitu cepat...

Ah, sial!
penabrak keparat!!!......

Aku sangat jelas mengingatnya, hari itu, hari jumat.
Hari dimana tak akan pernah kuliat lagi senyum sempurnamu di kelas.
Oya, waktu hari kamis beberapa jam sebelum kamu pergi,
entah pelajaran apa, aku kesulitan menemukanmu.
Mungkinkah ini pertanda?
Aku tengak-tengok mencari tempat dudukmu
Hanya sekedar ingin menanti terbit senyummu, Ik
Senyum yang mencuri hatiku.
Dengan susah payah aku menemukan tempat dudukmu,
di pojok depan dekat dengan guru, deret paling kiri.
sedangkan aku pojok kedua dari depan, deret paling kanan.

Hei, ini teman sekelasmu,
no absen 15, masih ingatkah?
Bukankah no absenmu 16, Ike? :)
Jadi, klo pas ujian semester kamu selalu duduk dibelakangku.


Sering kudengar kamu bernyanyi-nyanyi kecil
Ketika mengerjakan soal-soal yang memusingkan kepala itu?
Entahlah lagu apa itu, kalaupun tau nadanya, aku juga tak tau judulnya.
Atau saat mencolek pundaku Ike, menanyakan soal yang sulit.
Padahal aku juga tak tau jawaban yang benar.

Dan saat waktu ujian telah berakhir,
kita kadang saling mencocokan jawaban.
Kadang jawaban kita sama, tapi seringnya beda :D
Kau lucu, expresimu ketika jawaban kita beda sungguh ngangenin.

Owh, maaf Ike, aku melantur.......
sesak dadaku, saat aku mencoba mengingat serpihan-serpihan ini.
Oya Ike, aku sekarang kuliah di Arsitek sama seperti cita-cita-mu dulu :)
Udah dulu ya, tak enak menulis dengan mata sembam.
Baik-baik disana.....

Saat duduk dengannya (menanti hujan reda)


.



Hujan, karena rintih air mu yang jatuh tak terduga itu, aku bisa duduk lebih lama dengannya. Walaupun saat itu tiba-tiba saja aku menjadi seperti anak TK yang baru belajar ngomong. Rasa yang sungguh berbeda, yang tak pernah aku rasa jika duduk dengan yang lain. Itu lebih dari cukup bagiku. Yang biasanya cuma menanti terbit senyum sempurna mu dari kejauhan.

Aku sedang tidak bermimpi kan?
Duduk denganmu, di teras depan kampus, diiringi melody derai air hujan. Entahlah yang biasanya iramanya monoton, kini serasa sebuah symphonie.

Amm, saat itu kita sedang menunggu dosen kan?
Untuk asistensi gambar Denah Rumah.
Yang akhirnya tak jadi, karena beliau tak di tempat.

Disela-sela menanti hujan reda,
Kamu meminjam gambarku untuk diliat.
"Eh Ghan, liat donk gambarmu"
Katamu sambil mengambil gulungan kertas A3 yang tergeletak disampingku.

"Eh, gambarku jelek tau,..."
Setelah itu kamu terdiam,
Asyik meliat gambarku yang biasa2 aja itu kah?

Aku sedikit curi-curi pandang ke dia.
Ah, sial ketauan...
Saat mau mengalihkan pandangan, kamu berkata

"ih pola lantai car port mu bagus..."

"ee... eee, masa sih?" jawabku sekenanya.

Memang pola lantai car port kubuat berbeda, dengan lingkaran berpola ditengahnya.

"he eh, yeee... tapi cuma lantai car port-nya aja lho hihi..."

"Wah, berarti yang lain jelek donk?"

"Bagus ko ghany, hihi..."

Speecless, kikuk.
Ah, senyumu itu...
Sepertinya aku tak rela hujan ini reda.

Jam 2.30, kita pulang sendiri-sendiri. Walaupun masih gerimis...

Tanpa disadari, banyak orang berlalu-lalang di hati kita


.

Some people come into our lives and quickly go. Some stay for awhile and leave footprints on our hearts. And we are never, ever the same...

Coretan sisipan (edisi lamunan sebelum tidur)


.

Kau tau kenapa kopi yang pahit itu disuka banyak orang?
Jujur, aku bingung mau jawab apa jika kau tanyakan itu padaku.
Mungkin dengan filosofi ini, aku bisa menjelaskannya:

Jika hidup kadang terasa sepahit kopi, carilah gula diluar sana sebagai pemanis. Kelak akan menjadi kopi dengan takaran yang pas.

Mungkin gula yang kau cari itu: temen dekat, orang yang disayang, atau keluarga.
Oya, jangan terlalu manis! Kopi yang terlalu manis itu tak enak.
Saat kamu memasukan gula itu ke kopi,
Pejamkan matamu!
sambil nyebutin siapa aja yang pernah memberi warna di hidup mu.
Jika saat kamu cicip, masih pahit. Tambah lagi gulanya!
Yang berarti menambah satu nama yang belum kau sebut.
Yaitu orang yang tanpa kau sadari pernah menorehkan rasa manis dikeseharianmu.


Maaf bahasaku amburadul.
Coretan by Ghany, diilhami dari "Kisah 2 Kamar".

(Flashback ke masa SMA) Kelas X-8, awal kisahku dimulai


.

Entahlah awal-awal masuk SMA kelas 1 itu tanggal berapa, aku nggak ingat. Awal dimana namaku pertama kali tertulis di daftar absen Kelas X-8. Ya kelas itu, dimana kisahku yang tak kusangka-sangka dimulai. Walaupun MOS sudah berakhir, tapi tetap saja aku belum tau nama teman-temanku secara menyeluruh. Aku terlalu cuek, malas untuk berkenalan. Paling teman sebangku yang ternyata gamer juga, entah kebetulan atau apa, jadi kita cepat akrab.

Minggu pertama aktif pelajaran, aku berangkat kepagian, jam 6.20 ternyata sudah ada 4 orang teman di dalam kelas. Kulihat nama-nama di daftar itu, oh sial! Tak ada yang aku kenal. Terasa asing bagiku.
Dengan gontai aku putuskan untuk nongkrong di depan kelas saja. Sambil menunggu bel tanda masuk.
Kulihat teman kelas yang lain beberapa sudah akrab. Saling tegur sapa. Mungkin dulunya satu SMP.
......
"Teeet!... teeet!"
Lamunanku buyar, ketika bel tanda masuk berbunyi.
Saat aku nulis diary ini, bisa merasakan betapa malasnya aku untuk menerima pelajaran setelah sekian lama libur.
Tiba-tiba kulihat seorang cewe berlari kecil, tergesa-gesa. Sepertinya gara-gara bunyi bel tadi. Cewe mungil dengan rambut lurus sepunggungnya.
Heh! setengah kaget, ternyata dia teman sekelasku. Beda sekali waktu MOS, saat rambutnya dikepang pake pita, suruhan senior keparat.
Kita masuk ke kelas rada berdesak-desakan, sambil aku mencoba mengingat namanya. Bodoh, kenapa bisa lupa... "Siapa ya?" pertanyaan itu berulang-ulang muncul dalam pikiranku. "Ah, nanti juga tau saat seorang guru mengabsen" kataku dalam hati.

Wajah periangnya sepertinya telah menorehkan warna baru dihatiku, yang kelak hari-hariku terlihat berbeda.

Hujan Kepagian


.

Hujan tak pernah turun tepat waktu.
Dia datang hanya manakala dia suka.
Angkuh juga yah?

Tapi, semua itu tak pernah aku permasalahkan.
Pecinta hujan yang selalu menunggumu untuk turun.

Hey, dia menyapaku...


.

Jumat malam 3 September 2010,
masih di bulan Ramadhan, sehabis tarawih
aku online di FB.
Sebenarnya tujuan utamaku bukan FB-an.
Ngaskus gan:)... sama googling sesuatu.
Speedy lumayan lelet malam itu.
Oya, friend-ku yang online lagi berjibun, rame.
Jadi ngga aku gubris siapa-siapa aja.
Pas baca thread di Kaskus,
Ada peringatan kalau aku dapet 1 pesan.
Aku klik tab FB
Dan, setengah kaget sekaligus seneng :)...
"hey, dia menyapaku" teriakku dalam hati.
Ku baca pesannya perlahan.
"Ghan, kamu mudik ngga?"
Singkat, to the point.

Jeda

Kuliat foto-nya, ternyata dia baru ganti foto profil.

Aku bales.
"Iya nih, ini aja udah di rumah.
Mudik lebih awal, kamu gimana?"

Jeda

Selanjutnya cuma ngobrol ringan.
Sory, ngga aku posting soalnya privasi :)

First love emang sulit dilupain.
Dan akan menjadi kenangan abadi...
Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang kamu cintai.
Sebab dengan atau tanpa seseorang yang dikasihi,
hidup harus tetap dijalani :).

Pagi ini, Selasa 31 Agustus 2010


.


Seperti biasa aku bangun telat.
Secercah sinar matahari udah masuk ke celah jendela kamarku.
Dan memaksaku untuk menyipitkan mata.
Saatnya banguuun....
Kebiasaan di bulan Ramadhan sehabis subuh, aku tidur :P.
Malamnya dipuas-puasin buat begadang gitu deh.

"9.16" ucapku dalam batin ketika meraih SE K800i-ku
Ooowh, ada pesan masuk, kubuka.
Dari Deni W, terkirim 7.38.
"Ghan, hari ini ada kuliah apa?"
Dengan nyawa yang seadanya, aku balas.
"Wah aku ga tau bro, ke kampus aja.
Aku masih di Purwokerto".

Hmm... terkirim. Iya, awal kuliah seminggu ini aku bolos.
Coz bentar lagi mau lebaran.
klo bolak-balik Semarang-PWT, susah nyari Bus PATAS AC.
Ngga kebayang kan 5 jam perjalanan pake Bus ekonomi?
Panasnya like living in the damn Hell, huh...

Yea, mencoba melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Setelah selesai, nyapu lantai! dari kamarku hingga teras depan.
Hah, kamu ngga boong kan gan?, ya enggalah aku kan rajin :P

SE K800i-ku bunyi, ada sms masuk.
Tangan kanan pegang sapu, tangan kiri buka sms.
dari Deni W, baru bales 10.55
"Lha, masih di purwokerto ghan?
Padahal meh tek jak tanding PES"

Heh, ini bocah haha...
aku bales
"Woalah... tapi, thanks ajakannya bro.
abis lebaran aku terima tantanganmu"

Jeda

dibales lagi, "haha...oke"
write new, text message
Aku ngirim sms ke Tiko
Buat mastiin dia juga bablas kuliah seminggu ini apa engga.
Nyari temen seperjuangan, wkkwk

Jeda

Akhirnya dibales juga smsku
"Oke kita adalah temen seperjuangan... pertahankan.
ha.. 3x"
Asem ik, ngakak sendiri bacanya.
Ok, berarti beres. Tinggal nanya kuliah hari ini apa, ngapain.

Aku kirim sms ke Sandy Murbaut
"minggu ni aku ngga masuk kuliah San,
kalau ada pembagian kelompok atau apa, aku dikabarin.
Thanks. Aku dah mudik nih...."

Jeda

Dia mbales.
"Oukhey, penting jo lali ditransfer!!"
(berlagak kaya kontraktor ke pelaksana lapangan)
Coz kita kuliah di Arsitek.
Aku reply...
"Ntar kamu liat aja di parkiran San, kunci menyusul :P:D"
(berlagak juga kayak bos mau ngasih mobil ke pelaksana lapangan)

Jeda

Sandi bales untuk yang terakhir
"Kie ki podo-podo stress, wkkwkk"