
Hari rabu di semester 1 kelas 1 SMA,
seperti hari-hari biasanya,
Aku masuk ke kelas dimasa injury time.
Yup, sekitar delapan menitan sebelum bel masuk.
Yeah kebiasaan burukku yang patut dilestarikan.
Seru lagi, berangkat sekolah mepet-mepet gitu.
Jadi bisa lari-lari dikoridor kelas.
Nge-hujat lampu merah yang engga ijo-ijo.
Gregetan kalau angkotnya naik-turunin penumpang mlulu.
Ngedumel penuh kepasrahan kalau ternyata
sisa kursi kosong, adalah depan meja guru.
Namun untuk yang terakhir, ada solusi cerdasnya.
Yaitu bersimbiosis mutualisme.
Yup benar, bersimbiosis dengan seseorang
yang rajin berangkat pagi.
Dipersempit lagi, dia juga harus
punya bangku favorit yang sama sepertiku.
Pokoknya deret kedua dari belakang.
Nah anak yang tidak beruntung jadi teman
sebangkuku itu bernama Sunu.
Eh, apa dianya yang beruntung sebangku sama aku?
Soalnya nyontek aku mlulu kalau ulangan.
Oke jam pertama Biologi, skip aja, nothing interest.
Jam selanjutnya Geografi, Pak Caraka yang ngajar.
Nothing spesial juga, cuma minggu kemarin ada tugas.
Tugasnya individu bikin kuesioner
dengan respoden teman sekelas.
Intinya buat bahan tabulasi diagram sama curva.
Pengumpulannya masih minggu depan.
Oya, tema kuesionerku tentang hantu.
Isinya berkisar tentang kepercayaan mistis gitu deh.
Tema teman yang lain juga lucu-lucu.
Ada yang nanyain berapa kali kalian pacaran,
negara yang pengin dikunjungi kalau pas bulan madu,
siapa cewek paling cantik di kelas X-8? (nah lo), dll.
Selesainya jam Geografi, it's time to Break.
Anak-anak kebanyakan pada keluar.
Aku sama Sunu cuma duduk-duduk aja di kelas.
konsen ngebaca majalah Bola.
Yang cewek beberapa juga masih dikelas.
Malah lagi cekakak-cekikik ngga jelas gitu.
Heboh ngomongin sesuatu yang ngga aku ngerti.
Tiba-tiba, satu dari mereka, si Annisa,
manggil aku sama Sunu.
"heyyy, kalian berdua isiin kuesionerku donk".
"Eh, Ghan denger ngga, barusan suara binatang apaan?"
kata Sunu, gayanya nengokin kepala ke kanan-kiri.
"Godzilla lagi nyari anaknya"
jawabku sambil masih ngeliatin majalah.
Eh tau-tau tu anak udah disampingku.
"aaaaaah!... sakiiit Nis"
reflek aku teriak. Sumpah cubitan cewek
lebih sakit dibanding disenggol gorila.
Ya iyalah cuma disenggol.
"sukurin, weeee..."
Anis melet-melet.
"yaudah sini-sini, aku isiin.
Dari pada ntar disembur pake apinya"
"Ghaniii... jahat!! huuuuh..."
"hehe... engga, engga..."
Demi keselamatan akhirnya aku baca
kuesionernya si Annisa.
Disitu nanyain siapa cewek
paling cantik di kelas X-8.
"Sapa Sun cewe paling cantik di kelas kita?"
tanyakuku ke sunu yang juga ikut ngebaca.
"jawabnya yang jujur yah..."
Annisa nyerocos.
"tambah satu kolom lagi Nis, ngga ada yang bening!"
Aku cuma mesem-mesem ngedenger tadi Sunu ngomong.
Emang sarap tu bocah.
"Yeee.. sok bangeet!!"
sorak Annisa sama 2 temen cewek yang lain.
Dengan tiba-tiba mereka juga ikut ngeliatin.
"Nih... duluan ah Ghan"
Sunu ngasihin kertasnya ke aku.
Aku cuma bengong, bingung harus nulis nama siapa.
Waktu aku liat-liat jawaban yang lain,
sama juga, beberapa milih Ike.
Karena mungkin kelamaen ngga nulis-nulis,
si Annisa ngomong,
"Udah si Ike aja, cantik lho tu anak".
"he-eh Ghan, kita rame-rame milih dia... haha"
temen cewekku yang lain juga ikut memberi masukkan.
Yaudah, hati terdalamku juga milih dia.
Kenapa harus gengsi dan bilang bukan?
Oke, akan ku tulis dengan sangat rapi, Ike Andriyati.
Tapi entah tanganku kaku.
Susahkah menulis sebuah nama dengan tambahan rasa?
Sebuah nama yang aku tulis dengan jantung berdebar.
Terlebih nama lengkapnya.
Membaca dalam hati saja membuat panas dingin gemetaran.
Sesakral itukah namamu?
Finally, I wrote....
"Yuriska....."
Sontak Annisa, dan 2 temen cewekku yang lain
teriak, "cieeeeeee....... Riskaaa!!!".
"ihiiir... ihir Ghany" kini giliran Sunu.
Dan tanpa sepengetahuanku, sumpah aku engga tau.
Ternyata si Yuriska dari tadi duduk di meja depan,
selisih satu deret.
Dan Si Yuriska nengok ke aku, ngeliatin bentar.
Pada tahap ini, aku ngga punya keberanian natap matanya.
Betapa malunya aku.
Aaaaargh... pengin aku teriak. Trus ngomong ke sunu,
"Sun! bunuh aku!... bunuh aku Sun aaaaa!!!"
Tapi aku tahan. Karena dirasa terlalu lebay.
"Ghan... ayo samperin. Cieee..."
Kupreet Annisa.
"itu... aa.. anu.. arrr"
Sial aku ngeracau engga jelas.
Aku ngerasa tubuhku diluar kendali kewajaran.
Sampai butuh berpuluh-puluh menit untuk bisa tenang kembali.
(Flashback ke masa SMA) Harusnya namamu yang aku tulis
.


Posting Komentar