Archive for 2010

(Flashback ke masa SMA) Edelweiss itu bunga abadi, Ghany...


.

Mengenangmu, ike. Ghany, 17 Desember 2010.


"Edelweiss itu bunga abadi, Ghani..." ucapnya dengan senyum mungil.
Senyum yang sedari tadi kunanti untuk terbit.

"......."

Aku hanya mengerutkan dahi, tanda tak mengerti apa yang dimaksudkannya.
Oya, membayangkan saja bunga Edelweiss seperti apa aku pun tak tau.
"Payah juga aku ini, atau emang cowo tak pernah tau tentang bunga?" sindirku dalam hati.

Sepertinya makhluk didepanku ini telah membiusku untuk mendengarkan ceritanya lebih jauh.
"Kau tau?" ucapnya lagi, meneruskan.
Seketika itu juga lamunanku buyar.

"Ketika bunga ini dipetik, warna dan bentuknya tak akan berubah,
tapi kau harus menyimpannya di tempat yang kering dengan suhu kamar.
Itulah sebabnya bunga ini sebagai lambang keabadian. Cinta yang abadi!"

"Abadi?... " ucapku lirih dan samar-samar.
Kuharap dia tak mendengarkannya.

"Iya Ghan, kenapa?"
"Ee... ee, itu, aa... Kau pernah melihatnya langsung?"
Duh, kenapa kalimat itu yang terlontar. Mati kutu.
Ternyata dia sedikit mendengar gumamanku.

"Hehe, belum sih, tapi kuharap suatu saat nanti ada yang membawakannya untukku"
"Yee... kirain.Eh, tapi pasti yang ngasih tulus banget ya, rasa sayangnya"

"Tulus dan rela berkorban, Ghan. Soalnya Edelweiss juga melambangkan pengorbanan.
Kan bunga ini hanya tumbuh di puncak dan lereng-lereng gunung.
Jadi untuk mendapatkannya butuh perjuangan yang sangat berat"

Aku terpaku, terpana. Ternyata dia bisa berpikir sejauh ini.
Entahlah, sekarang yang ada dipikiranku bunga Edelweiss atau malah
makhluk didepanku ini? makhluk yang sungguh mempesona.

"Kayaknya indah banget ya ngeliat hamparan bunga Edelweiss di puncak gunung
bersama orang yang disayangi?" lanjutnya lagi.
"Iyah, betapa beruntungnya sepasang orang itu"

"Ghan... ghan... tapi setelah dipikir-pikir. Biarlah bunga Edelweiss terhampar disana.
Tak perlu dipetik. Buat apa memetik sesuatu bila lebih indah pada tempatnya?"

"Yup, dan juga... biarlah Edelweiss menjadi alasan kenapa orang rela bersusah payah mendaki gunung.
Tak memperdulikan disampingnya ada jurang.Sekedar untuk melihat hamparan bunga abadi ini,
Edelweiss, seperti yang dikata banyak orang" sambungku.

Percakapan aku denganya terhenti disini, saat extrakurikuler yang dia ikuti mau dimulai.



*Sampai saat ini pun aku belum bisa memetik Edelweiss.
Andaikan kamu memberiku izin untuk memetiknya,
aku bingung bagaimana cara memberinya untukmu.
Aku tau, bunga itu spesial untukmu. Tapi... dimana kita janjian ketemu?
Iya, tak perlu susah-susah memikirkan tempat kita janjian :).
Aku saja yang akan mengantarkan ke tempat nisanmu*

(Flashback ke masa SMA) Baik - baik disana, Ike


.

Mataku terlalu mendung mengingat semua kenangan bersama mu, Ike.
Kau gadis yang periang, baik, dan lincah.
Kadang aku juga tak percaya dengan semua ini, begitu cepat...

Ah, sial!
penabrak keparat!!!......

Aku sangat jelas mengingatnya, hari itu, hari jumat.
Hari dimana tak akan pernah kuliat lagi senyum sempurnamu di kelas.
Oya, waktu hari kamis beberapa jam sebelum kamu pergi,
entah pelajaran apa, aku kesulitan menemukanmu.
Mungkinkah ini pertanda?
Aku tengak-tengok mencari tempat dudukmu
Hanya sekedar ingin menanti terbit senyummu, Ik
Senyum yang mencuri hatiku.
Dengan susah payah aku menemukan tempat dudukmu,
di pojok depan dekat dengan guru, deret paling kiri.
sedangkan aku pojok kedua dari depan, deret paling kanan.

Hei, ini teman sekelasmu,
no absen 15, masih ingatkah?
Bukankah no absenmu 16, Ike? :)
Jadi, klo pas ujian semester kamu selalu duduk dibelakangku.


Sering kudengar kamu bernyanyi-nyanyi kecil
Ketika mengerjakan soal-soal yang memusingkan kepala itu?
Entahlah lagu apa itu, kalaupun tau nadanya, aku juga tak tau judulnya.
Atau saat mencolek pundaku Ike, menanyakan soal yang sulit.
Padahal aku juga tak tau jawaban yang benar.

Dan saat waktu ujian telah berakhir,
kita kadang saling mencocokan jawaban.
Kadang jawaban kita sama, tapi seringnya beda :D
Kau lucu, expresimu ketika jawaban kita beda sungguh ngangenin.

Owh, maaf Ike, aku melantur.......
sesak dadaku, saat aku mencoba mengingat serpihan-serpihan ini.
Oya Ike, aku sekarang kuliah di Arsitek sama seperti cita-cita-mu dulu :)
Udah dulu ya, tak enak menulis dengan mata sembam.
Baik-baik disana.....

Saat duduk dengannya (menanti hujan reda)


.



Hujan, karena rintih air mu yang jatuh tak terduga itu, aku bisa duduk lebih lama dengannya. Walaupun saat itu tiba-tiba saja aku menjadi seperti anak TK yang baru belajar ngomong. Rasa yang sungguh berbeda, yang tak pernah aku rasa jika duduk dengan yang lain. Itu lebih dari cukup bagiku. Yang biasanya cuma menanti terbit senyum sempurna mu dari kejauhan.

Aku sedang tidak bermimpi kan?
Duduk denganmu, di teras depan kampus, diiringi melody derai air hujan. Entahlah yang biasanya iramanya monoton, kini serasa sebuah symphonie.

Amm, saat itu kita sedang menunggu dosen kan?
Untuk asistensi gambar Denah Rumah.
Yang akhirnya tak jadi, karena beliau tak di tempat.

Disela-sela menanti hujan reda,
Kamu meminjam gambarku untuk diliat.
"Eh Ghan, liat donk gambarmu"
Katamu sambil mengambil gulungan kertas A3 yang tergeletak disampingku.

"Eh, gambarku jelek tau,..."
Setelah itu kamu terdiam,
Asyik meliat gambarku yang biasa2 aja itu kah?

Aku sedikit curi-curi pandang ke dia.
Ah, sial ketauan...
Saat mau mengalihkan pandangan, kamu berkata

"ih pola lantai car port mu bagus..."

"ee... eee, masa sih?" jawabku sekenanya.

Memang pola lantai car port kubuat berbeda, dengan lingkaran berpola ditengahnya.

"he eh, yeee... tapi cuma lantai car port-nya aja lho hihi..."

"Wah, berarti yang lain jelek donk?"

"Bagus ko ghany, hihi..."

Speecless, kikuk.
Ah, senyumu itu...
Sepertinya aku tak rela hujan ini reda.

Jam 2.30, kita pulang sendiri-sendiri. Walaupun masih gerimis...

Tanpa disadari, banyak orang berlalu-lalang di hati kita


.

Some people come into our lives and quickly go. Some stay for awhile and leave footprints on our hearts. And we are never, ever the same...

Coretan sisipan (edisi lamunan sebelum tidur)


.

Kau tau kenapa kopi yang pahit itu disuka banyak orang?
Jujur, aku bingung mau jawab apa jika kau tanyakan itu padaku.
Mungkin dengan filosofi ini, aku bisa menjelaskannya:

Jika hidup kadang terasa sepahit kopi, carilah gula diluar sana sebagai pemanis. Kelak akan menjadi kopi dengan takaran yang pas.

Mungkin gula yang kau cari itu: temen dekat, orang yang disayang, atau keluarga.
Oya, jangan terlalu manis! Kopi yang terlalu manis itu tak enak.
Saat kamu memasukan gula itu ke kopi,
Pejamkan matamu!
sambil nyebutin siapa aja yang pernah memberi warna di hidup mu.
Jika saat kamu cicip, masih pahit. Tambah lagi gulanya!
Yang berarti menambah satu nama yang belum kau sebut.
Yaitu orang yang tanpa kau sadari pernah menorehkan rasa manis dikeseharianmu.


Maaf bahasaku amburadul.
Coretan by Ghany, diilhami dari "Kisah 2 Kamar".

(Flashback ke masa SMA) Kelas X-8, awal kisahku dimulai


.

Entahlah awal-awal masuk SMA kelas 1 itu tanggal berapa, aku nggak ingat. Awal dimana namaku pertama kali tertulis di daftar absen Kelas X-8. Ya kelas itu, dimana kisahku yang tak kusangka-sangka dimulai. Walaupun MOS sudah berakhir, tapi tetap saja aku belum tau nama teman-temanku secara menyeluruh. Aku terlalu cuek, malas untuk berkenalan. Paling teman sebangku yang ternyata gamer juga, entah kebetulan atau apa, jadi kita cepat akrab.

Minggu pertama aktif pelajaran, aku berangkat kepagian, jam 6.20 ternyata sudah ada 4 orang teman di dalam kelas. Kulihat nama-nama di daftar itu, oh sial! Tak ada yang aku kenal. Terasa asing bagiku.
Dengan gontai aku putuskan untuk nongkrong di depan kelas saja. Sambil menunggu bel tanda masuk.
Kulihat teman kelas yang lain beberapa sudah akrab. Saling tegur sapa. Mungkin dulunya satu SMP.
......
"Teeet!... teeet!"
Lamunanku buyar, ketika bel tanda masuk berbunyi.
Saat aku nulis diary ini, bisa merasakan betapa malasnya aku untuk menerima pelajaran setelah sekian lama libur.
Tiba-tiba kulihat seorang cewe berlari kecil, tergesa-gesa. Sepertinya gara-gara bunyi bel tadi. Cewe mungil dengan rambut lurus sepunggungnya.
Heh! setengah kaget, ternyata dia teman sekelasku. Beda sekali waktu MOS, saat rambutnya dikepang pake pita, suruhan senior keparat.
Kita masuk ke kelas rada berdesak-desakan, sambil aku mencoba mengingat namanya. Bodoh, kenapa bisa lupa... "Siapa ya?" pertanyaan itu berulang-ulang muncul dalam pikiranku. "Ah, nanti juga tau saat seorang guru mengabsen" kataku dalam hati.

Wajah periangnya sepertinya telah menorehkan warna baru dihatiku, yang kelak hari-hariku terlihat berbeda.

Hujan Kepagian


.

Hujan tak pernah turun tepat waktu.
Dia datang hanya manakala dia suka.
Angkuh juga yah?

Tapi, semua itu tak pernah aku permasalahkan.
Pecinta hujan yang selalu menunggumu untuk turun.

Hey, dia menyapaku...


.

Jumat malam 3 September 2010,
masih di bulan Ramadhan, sehabis tarawih
aku online di FB.
Sebenarnya tujuan utamaku bukan FB-an.
Ngaskus gan:)... sama googling sesuatu.
Speedy lumayan lelet malam itu.
Oya, friend-ku yang online lagi berjibun, rame.
Jadi ngga aku gubris siapa-siapa aja.
Pas baca thread di Kaskus,
Ada peringatan kalau aku dapet 1 pesan.
Aku klik tab FB
Dan, setengah kaget sekaligus seneng :)...
"hey, dia menyapaku" teriakku dalam hati.
Ku baca pesannya perlahan.
"Ghan, kamu mudik ngga?"
Singkat, to the point.

Jeda

Kuliat foto-nya, ternyata dia baru ganti foto profil.

Aku bales.
"Iya nih, ini aja udah di rumah.
Mudik lebih awal, kamu gimana?"

Jeda

Selanjutnya cuma ngobrol ringan.
Sory, ngga aku posting soalnya privasi :)

First love emang sulit dilupain.
Dan akan menjadi kenangan abadi...
Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang kamu cintai.
Sebab dengan atau tanpa seseorang yang dikasihi,
hidup harus tetap dijalani :).

Pagi ini, Selasa 31 Agustus 2010


.


Seperti biasa aku bangun telat.
Secercah sinar matahari udah masuk ke celah jendela kamarku.
Dan memaksaku untuk menyipitkan mata.
Saatnya banguuun....
Kebiasaan di bulan Ramadhan sehabis subuh, aku tidur :P.
Malamnya dipuas-puasin buat begadang gitu deh.

"9.16" ucapku dalam batin ketika meraih SE K800i-ku
Ooowh, ada pesan masuk, kubuka.
Dari Deni W, terkirim 7.38.
"Ghan, hari ini ada kuliah apa?"
Dengan nyawa yang seadanya, aku balas.
"Wah aku ga tau bro, ke kampus aja.
Aku masih di Purwokerto".

Hmm... terkirim. Iya, awal kuliah seminggu ini aku bolos.
Coz bentar lagi mau lebaran.
klo bolak-balik Semarang-PWT, susah nyari Bus PATAS AC.
Ngga kebayang kan 5 jam perjalanan pake Bus ekonomi?
Panasnya like living in the damn Hell, huh...

Yea, mencoba melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Setelah selesai, nyapu lantai! dari kamarku hingga teras depan.
Hah, kamu ngga boong kan gan?, ya enggalah aku kan rajin :P

SE K800i-ku bunyi, ada sms masuk.
Tangan kanan pegang sapu, tangan kiri buka sms.
dari Deni W, baru bales 10.55
"Lha, masih di purwokerto ghan?
Padahal meh tek jak tanding PES"

Heh, ini bocah haha...
aku bales
"Woalah... tapi, thanks ajakannya bro.
abis lebaran aku terima tantanganmu"

Jeda

dibales lagi, "haha...oke"
write new, text message
Aku ngirim sms ke Tiko
Buat mastiin dia juga bablas kuliah seminggu ini apa engga.
Nyari temen seperjuangan, wkkwk

Jeda

Akhirnya dibales juga smsku
"Oke kita adalah temen seperjuangan... pertahankan.
ha.. 3x"
Asem ik, ngakak sendiri bacanya.
Ok, berarti beres. Tinggal nanya kuliah hari ini apa, ngapain.

Aku kirim sms ke Sandy Murbaut
"minggu ni aku ngga masuk kuliah San,
kalau ada pembagian kelompok atau apa, aku dikabarin.
Thanks. Aku dah mudik nih...."

Jeda

Dia mbales.
"Oukhey, penting jo lali ditransfer!!"
(berlagak kaya kontraktor ke pelaksana lapangan)
Coz kita kuliah di Arsitek.
Aku reply...
"Ntar kamu liat aja di parkiran San, kunci menyusul :P:D"
(berlagak juga kayak bos mau ngasih mobil ke pelaksana lapangan)

Jeda

Sandi bales untuk yang terakhir
"Kie ki podo-podo stress, wkkwkk"