Beberapa saat yang lalu kulihat sekumpulan kunang-kunang di taman pemakaman.
Pendar cahayanya mengisyaratkan kemuraman, kesepian, dan kedukaan kepada yang telah berpulang.
Terkadang beberapa teman menanyaiku, "kunang-kunang di taman pemakaman, apa istimewanya?"
Si kuku orang mati yang hinggap dan berkelana diantara kegelapan nisan pemakaman China.
Orang pun enggan hanya sekadar berlari untuk mendekatinya.
Hanya setitik cahaya bioluminesensi yang mereka miliki menjadi satu-satunya daya tarik.
Tapi apakah kamu tau? daya tarik itu sebenarnya cara mereka mempertaruhkan hidupnya dari pemasangsa.
Ironis bukan, dalam imajinasi kita, setitik cahaya berpendar itu seperti "bola api magis melayang" hasil rapalan mantra para penyihir di game-game console.
Disisi lain, setitik cahaya tersebut adalah pengharapan untuk kesempatan melanjutkan hidupnya lebih lama.
Bandingkan saja dengan kupu-kupu yang begitu anggun hinggap di mahkota bunga.
Seolah-olah mereka berada di kasta yang berbeda ya.
Mungkin bagi sebagian orang beranggapan ini tidak adil.
Kau ingat? kupu-kupu dengan sayap yang mempesona itu tidaklah didapat dari mereka sejak kecil
Dahulunya hanyalah seekor serangga mungil yang orang pun akan merasa jijik ketika melihatnya.
Selama berminggu-minggu serangga mungil itu berpuasa, mengalihkan indahnya dunia.
Hujan, badai, panas terik, dan ancaman pemangsa, ia lalui dengan berdiam diri penuh kepasrahan dalam bentuk keduanya.
Tanpa memperdulikan apakah esok hari masih bisa bertemu dengan birunya langit atau tidak.
Ia hanya mengingat akan janji dari sebaik-baiknya pencipta (Alloh SWT) sebagai penyemangat.
Janji yang tak akan pernah diingkari, janji untuk kelak memiliki dua pasang sayap.
"Tapi kunang-kunang dan kupu-kupu adalah binatang yang sama-sama mengalami metamorfosis sempurna kan" sisi diriku yang lain menimpali.
"Bukankah itu salah satu bentuk keadilan Alloh?"
"Hey, apa sebenarnya manfaat diciptakannya makhluk-makhluk ini? Mengapa Allah menciptakannya?"
Namun Al-Quran menunjukkan kuasa Allah atas semua ciptaan-Nya.
“Ya Tuhan kami, kami bersaksi bahwa tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia (Al-Imran : 191)”.
Beberapa binatang serangga disebutkan di sana, semut, lebah, dan laba-laba.
Sebagai makna tersyirat bahwa Allah SWT tidak menciptakan apa pun kecuali di sana terdapat suatu hikmah, baik yang kita ketahui maupun tidak.
Kita sebagai manusia yang sama-sama menjadi makhluk ciptaanya Nya tidak patut untuk menyombongkan diri, karena sama-sama memiliki keterbatasan, sama-sama memiliki awal, dan sama-sama akan berpulang pada waktunya masing-masing.


Posting Komentar